Kamis, 31 Mei 2012

PAGELARAN Ngamumule Budaya Sunda TARAWANGSA DALAM UPACARA AMPIH PARE


DALAM UPACARA AMPIH PARE
oleh: Rikhsan Nurhadian S.
1. Nama Upacara
Nama upacara adalah Pagelaran Tarawangsa[1]dalam Upacara Ampih Pare.2. Waktu dan Tempat
Waktu pementasan Pagelaran Tarawangsa biasanya dilaksanakan setiap tiba masa panen atau Rubuh jerami (ampih pare) yaitu sebagai penghormatan terhadap Dewi Sri[2]. dan dilaksanakan pula dalam upacara-upacara seperti:
1. Pergantian tahun Islam (1 Muharam).
2. Ngeruat rumah baru.
3. Sebagai hiburan atau kahuripan (kehidupan) kampung.
4. Hajatan.
5. Upacara adat.
6. Sambutan terhadap tamu Negara.

Tempat pementasan Pagelaran Tarawangsa biasanya dilakukan di lapangan atau alun-alun kecamatan/kampung, seperti yang dilakukan di Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang Jawa Barat. Sedangkan untuk upacara ampih pare-nya dilaksanakan di area pesawahan dan wilayah perumahan masyarakat, untuk upacara ampih pare ini sudah menjadi upacara khas dari daerah-daerah di Jawa Barat seperti di Kab. Sumedang, Kab. Cianjur, Kab. Ciamis dan Kab. Subang.,
3. Pemimpin dan Peserta

Dalam pergelaran Tarawangsa sebagai upacara hormatan ada yang dijadikan pemimpin untuk melaksanakan rangkaian upacara hormatan tersebut yang disebut Saehu untuk pemimpin penari laki-laki dan Paibuan untuk pemimpin penari perempuan. Kita dapat membedakan antara Saehu dan Paibuan dengan penari yang lainnya/tamu ketika menari yakni, dari benda yang digunakan, untuk pesertanya adalah para penari. Sedangkan pemimpin upacara ampih pare ialah dipimpin oleh Pupuhu yaitu ketua adat setempat dibantu oleh tokoh agama dan tokoh masyarakat atau Rurukan (bila yang punya hajat itu sendiri/perorangan) dan untuk pesertanya ialah para petani dan masyarakat sekitar.
4. Properti dan Maknanya
  1. Upacara ampih pare
Properti atau alat-alat yang digunakan adalah rengkong (alat pemikul padi), leuit[3], alat musik (kendang, bonang, angklung, suling dan gong) dan sesajen.
  1. Pagelaran Tarawangsa
Properti atau alat-alat yang digunakan untuk pengiring musik yaitu Tarawangsa, alat-alat gamelan (kendang, bonang, suling, saron dan gong).
Properti atau alat-alat yang digunakan oleh Saehu (pemimpin laki-laki)
a. Totopong (ikat kepala)
Makna penggunaan totopong ialah sebagai panggagah atau kegagahan bagi kaum laki-laki, dan juga bahwa lelaki adalah tulang punggung dalam mencari rezeki.
b. Kain matra kusumah (sinjang rereng)
Kain sinjang rereng yaitu kain batik bermotif parang rusak atau parang barong yang disarungkan dipinggang, kain ini mempunyai makna keningratan atau keluhuran sebagai pemimpin kerajaan Sunda dulu.
c. Keris atau Kujang[4]
Keris adalah pusaka raja-raja, dan kujang adalah pusaka raja-raja kerajaan Sunda, memiliki makna sakral dan kewibawaan.
Sedangkan untuk Paibuan menggunakan:
a. Renda berwarna putih
Renda warna putih menggambarkan manusia yang baru lahir masih suci belum punya dosa dan dalam diri manusia terdapat kesucian yang harus direksa atau dijaga.
b. Sisir dan Gelang
Sisir digunakan oleh Paibuan yang tidak berjilbab, tetapi jika Paibuannya berjilbab sisir yang disediakan tidak dipakai juga tidak apa-apa. Benda-benda yang dipakai oleh Paibuan pada saat nema paibuan dapat dipindahkan kepada orang yang sudah kedatangan roh nenek moyang (dalam bahasa sunda kasumpingan). Berdasakan keterangan yang diperoleh, ketika seseorang sudah kedatangan (kasumpingan) maka akan kelihatan dari gerak yang dibawakan akan kelihatan sangat diresapi dan hanya tukang ngukus[5] yang dapat melihat apakah seseorang kasumpingan benar-benar atau hanya pura-pura. Benda yang dipakai sebagai tanda menyerahkan giliran menari dari laki-laki kepada perempuan yaitu selendang berwarna putih, hijau, dan merah.
c. Selendang (karembong wulung)
Selendang tersebut merupakan gambaran dari manusia, dimana selendang warna putih menggambarkan manusia yang baru lahir masih suci belum punya dosa. Kemudian warna hijau menggambarkan manusia yang menginjak dewasa, dan warna merah menggambarkan manusia yang sudah berlumur dosa. Dalam pergelaran Tarawangsa orang yang menari pertama akan memakai selendang warna putih, kemudian setelah mulai dapat merasakan tempo, irama dan menghayati musik dan gerak maka ditambah dengan selendang berwarna hijau, apabila sudah mencapai puncak atau sudah kasumpingan (kedatangan roh) maka ditambah lagi dengan selendang berwarna merah.
Apabila sudah tidak tertahan lagi atau sudah kelihatan tidak karuan geraknya maka dinetralkan lagi dengan salendang wulung[6] sehingga penari kembali tenang, seperti halnya keris salendang wulung juga diyakini memiliki kekuatan untuk memberikan ketenangan.
5. Suasana Upacara
Ampih pare merupakan perayaan panen bersama dimana masyarakat sangat sukacita dalam pelaksanaannya, suasana upacara pun sangatlah ramai dimana hampir mayoritas masyarakat semua ikut ambil bagian dalam upacara ini baik menjadi peserta (petani) atau pun hanya sebatas menonton saja. Suasana khidmat dirasakakan pada acara pembacaan doa atau syukuran, dimana masyarakat diwajibkan khusu dalam pembacaan doa ini, dikarenakan ada istilah pamali atau suatu hal yang dilarang jika dalam pembacaan doa tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh. Masyarakat masih beranggapan bahwa hasil panen musim berikutnya ditentukan oleh bagaimana kesungguahan kita melaksanakan syukuran terhadap hasil panen musim ini.
Suasana berbeda pada acara Pagelaran Tarawangsa, karena acara ini dilaksanakan pada malamnya. Namun, keramaian dan antusias masyarakat sekitar sangatlah tinggi dimana hampir tidak ada aktivitas lain yang dilakukan oleh masyarakat selain mengikuti dan menyaksikan Pagelaran Tarawangsa ini. Kekhidmatan mulai terasa disaat acara akan dimulai karena sebagian sesepuh tokoh masyarakat melakukan ritual-ritual tertentu, keheningan mulai pecah diwaktu alunan musik gamelan dan gesekan Tarawangsa didengdangkan akan tetapi lagu-lagu yang dinyanyikan justru menambah kesakralan acara ini. Suasana malam yang semakin larut mulai memberikan efek mencekam terlebih disaat acara nyumpingkeun, walaupun sebelumnya diadakan acara tari bersama baik para penari yang bertugas maupun masyarakat yang ikut dalam acara ini. Dalam acara nyumpingkeun ini biasanya masyarakat mulai sedikit tegang karena prosesi penyambatan yang dilakukan tidak selalu yang kerasukan (kasumpingan) itu paibuan atau penari saja terkadang masyarakat juga ada yang kerasukan terutama wanita, hal ini yang membuat suasana dalam prosesi nyumpingan begitu mencekam.
6. Proses Jalannya Upacara
  1. Ampih Pare
Diawali dengan pembacaan dua kalimat syahadat disusul doa “pangrajah”[7], sembilan[8] lelaki tampak bergiliran menjinjing sageugeus (seikat) untaian padi yang dibawanya ke depan leuit khusus untuk menyimpan padi. Disusul dengan doa pangrajah, seorang demi seorang dari sembilan lelaki tadi lalu memasukkan geugeusan padinya masing-masing dengan cara melemparkannya ke lubang pintu leuit.
Selama prosesi memasukkan kesembilan geugeus padi ke dalam leuit berlangsung, sayup-sayup terdengar irama suara angklung, tabuhan kendang, bonang, dan gong mengiringi tiupan seruling lagu papalayung[9]. Selanjutnya acara menghidangkan sesajen yang ditujukan sebagai rasa syukur kepada Dewi Sri atas hasil panen yang telah diberikan kepada para petani, dengan berharap untuk tahun selanjutnya diberikan hasil panen yang melimpah.
Usai melaksanakan upacara Ampih Pare biasanya disusul pembacaan deklarasi dari tokoh masyarakat adat di tempat yang sama, selanjutnya terkadang dilaksanakan pula pengukuhan terhadap budayawan, yang diangkat sebagai pemuka adat di Paguyuban Masyarakat Adat.
Setelah panen dan ampih pare dilanjutkan dengan
  1. Pagelaran Tarawangsa
Prosesi dimulai dari jam 21.oo sampai 03.oo dini hari. Prosesi diawali dengan:
a. Ngalungsurkeun (mengeluarkan bibit padi)
Ngalungsurkeun memiliki makna menurunkan keberkahan, yakni dengan mengelurkan bibit padi (pare bungsu) dari goah[10]. Kemudian disimpan dekat sesajen dengan tujuan supaya bisa dapat berkah dari hadirnya Dewi Sri serta arwah-arwah para leluhur (karuhun). Acara ini dipimpin oleh Saehu dan Paibuan yang diikuti oleh tamu perempuan yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah tempat bibit padi yang tersedia di pajemuhan/goah. Bibit padi yang dikeluarkan itu adalah milik para tamu yang menyimpan (ngiringan) dalam tempat kecil seperti rantang atau juga ada tempat yang dinamakan pipiti[11] dengan tujuan agar bibit padinya mendapat do’a dari semua yang hadir sehingga bisa mendapatkan berkah bibit padi yang bagus juga karena menurut kepercayaan masyarakat Dewi Sri (Dewi Padi) dan para leluhur akan hadir.
Laki-laki yang ikut dalam acara ini hanya Saehu saja yang membawa anggoan (pakaian) yang punya rumah (rurukan).
b. Netes
Acara ini dilakukan oleh seorang ibu (canoli[12]). Kegiatan yang dilakukan yakni meneteskan air dengan daun sirih kedalam setiap tempat bibit padi sambil bernyanyi (dalam bahasa sunda ngahaleuang) yang berisi do’a dan harapan agar bibit padi yang kelak akan ditanam dapat membuahkan hasil yang baik. Menurut keterangan biasanya do’a tersebut berbentuk mantra (jangjawokan) dengan memiliki keyakinan “Dewata Maring Manusa, Manusa Maring Dewata” yang artinya bahwa dalam kehidupan kita tidak akan lepas dari pengaruh-pengaruh roh leluhur atau arwah-arwah yang dikeramatkan (karuhun) kalau kita berdekatan saling menghargai.
c. Nema Paibuan
Pada nema paibuan ini ada lima orang penari perempuan yakni Paibuan, yang punya rumah, dan tiga orang penari dari grup Tarawangsa.
Nema sendiri artinya bertemu, disini yang pertama menari adalah Paibuan dengan lagu saur atau sering disebut saur pangembat[13] dengan maksud memberikan pengumuman (bewara) kepada tamu yang hadir bahwa akan kedatangan Dewi Sri yang datang dengan berlayar yang digambarkan dengan lagu lalayaran[14] kemudian diikuti oleh penari yang lainnya saling bergantian, sampai selesai yang lima orang tadi.
d. Hiburan Perempuan dan Hiburan Laki-laki
Pada acara ini semua tamu yang hadir pada pergelaran Tarawangsa dipersilahkan untuk menari (dalam bahasa sunda ngibing), semua tamu mendapat hak untuk menari. Acara hiburan diawali oleh Paibuan bersama yang tamu yang lain yang jumlahnya harus ganjil bisa lima orang, tujuh orang, atau sembilan orang dilanjutkan para tamu perempuan (ibu-ibu) sampai sekitar tengah malam. Kemudian Paibuan menyerahkan selendang kepada Saehu sebagai tanda mempersilahkan kaum laki-laki (bapa-bapa) untuk menari. Seperti halnya tamu perempuan, semua tamu laki-lakipun mendapatkan hak yang sama untuk mendapat giliran menari asal tempatnya tidak telalu penuh, jadi bergiliran.
e. Nyumpingkeun (pohaci[15] icikibung[16])
Kegiatan ini diawali oleh Paibuan dengan menari sambil memanggil (nyambat) Dewi Sri dan arwah para leluhur (karuhun) dengan kalimat seperti berikut: “mangga nyi pohaci enggal gera ngaluuh, disuhunkeun enggal sumping” kalimat tersebut bukan suatu kalimat yang baku harus diucapkan oleh Paibuan ketika nyambat, tetapi kalimat ungkapan sendiri. Jadi setiap Paibuan akan berbeda-beda saat nyambat, bahkan dari seorang paibuan saja dari satu tempat ke tempat lain akan berbeda pula yang diucapkannya. Setelah nyambat selesai, Paibuan menari yang kemudian diikuti oleh tamu perempuan.
Paibuan yang sudah kasumpingan akan merasakan bahwa dia menjadi sosok karuhun yang datang. Siapa yang datang nanti akan tercermin dalam gerakan, ada yang gagah berarti yang datangnya karuhun laki-laki, kalau bergeraknya mengalun, halus, yang datang berarti perempuan. Pada acara nyumpingkeun ini arwah leluhur yang dipanggil biasanya dari leluhur keluarga yang punya hajat, dan datangnya (sumping) harus kepada yang punya rumah (rurukan). Kalau tidak datang (sumping) kepada yang punya rumah mereka menganggap acara yang diselenggarakan oleh rurukan itu kurang bermanfaat (mubah). Ketika rurukan sudah kasumpingan maka penari yang lainnya mengelilingi rurukan, kalau tidak dikelilingi bisa saja sampai jatuh karena badan yang kasumpingan akan terasa lemas. Untuk membantu agar tetap kuat dihadirkan keris yang mereka yakini secara magis dapat memberikan kekuatan kepada yang kasumpingan.
Sukses atau tidaknya sebuah pergelaran Tarawangsa dalam acara hormatan dilihat dari banyak atau tidaknya yang kesurupan juga pada acara nyumpingkeun apakah ada karuhun yang datang atau tidak, keyakinan seperti itu sekarang sudah mulai diabaikan, karena pola pikir masyarakat pendukung kesenian tersebut sudah berkembang, sehingga sukses dan tidaknya sebuah pergelaran Tarawangsa pada upacara hormatan itu ditentukan dengan banyak atau sedikitnya tamu yang hadir. Akan tetapi walaupun pandangan berbeda tetap tidak akan mengurangi nilai kesakralan pada upacara hormatan.
f. Nginebkeun (menyimpan kembali bibit padi)
Nginebkeun mempunyai makna menempatkan Dewi Sri pada tempatnya dengan acara menyimpan kembali bibit padi yang tadi dikeluarkan selama upacara hormatan dilaksanakan kembali ke ruangan tempat penyipanan padi (pajemuhan/goah). Kegiatan ini merupakan acara terakhir dalam urutan upacara hormatan, dan dilakukan menjelang adzan subuh.
7. Perubahan-perubahan yang Terjadi
Seiring dengan berkembangnya jaman dan masuknya agama Islam kedalam kehidupan masyarakat Sunda, pelaksanaan kegiatan adat pun sedikit banyaknya mengalami perubaha-perubahan sesuai dengan kaidah atau ajaran agama Islam. Perubahan yang terjadi diantaranya seperti:
  1. Sesajen yang ditujukan kepada Dewi Sri pada upacara ampih pare sudah tidak dilakukan diganti dengan hidangan tumpeng dan makanan-makanan khas Sunda sebagai rasa syukur terhadap Allah SWT.
  2. Pangrajah atau jampi-jampi diganti dengan do`a-do`a sesuai ajaran Islam.
  3. Dalam Pagelaran Tarawangsa pembacaan jangjawokan atau mantra sudah tidak dilakukan lagi, diganti dengan do`a yang islami.
  4. Acara kasumpingan atau nyambat terhadap karuhun atu roh-roh sudah jarang dilaksanakan, walaupun sebagian masyarakat masih melaksanakannya.
Perubahan-perubahan tidak didasarkan oleh masuknya ajaran Islam saja, perubahan terjadi juga karena kehidupan masyarakat yang beranjak lebih modern, menjadikan upacara seperti ampih pare sudah jarang dilaksanakan dikarenakan masyarakat sudah merubah bentuk rumahnya dari rumah adat yang memiliki lieut dan goah/pajemuan menjadi rumah modern dimana tidak adanya lumbung padi buat penyimpanan atau persediaan padi. Selain itu juga para petani sudah jarang menyimpan hasil panennya, terlebih langsung dijual kepada para pembeli atau langsung dijual ke pasar.
Keadaan yang seperti inilah yang membuat acara adat jarang dilaksanakan hanya sebagian masyarakat saja yang masih melestarikannya. Hal ini berimbas pula terhadap Pagelaran Tarawangsa, pagelaran ini sekarang jarang dilaksanakan lagi, Pagelaran Tarawangsa dewasa ini hanya dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten saja sebagai kebudayaan yang sering dilaksanakan ketika hari jadi kota.
8. Modifikasi unsur Budaya dan Islam
Persentuhan antara unsur-unsur budaya dengan Islam sangatlah kental sekali, dimana dalam pelaksanaannya terdapat perbaduan antara keduanya. Sejarah mengatakan bahwa perubahan terjadi dikarenakan masuknya unsur-unsur Islam kedalam kebudayaan Sunda, penggunaan do`a-do`a bahkan shalawatan kapada Nabi Muhammad SAW sering dilakukan dalam upacara adat yang bertepatan dengan bulan mulud. Unsur Islam lain yang sering dilaksanakan yaitu dimasukannya acara siraman rohani oleh tokoh agama dalam acara syukuran atau hormatan dalam budaya Pagelaran Tarawangsa dan ampih pare.

9. Manfa`at bagi Masyarakat
Pelaksanaan Upacara Ampih Pare dan Pagelaran Tarawangsa sangatlah bermanfaat bagi masyarakat Sunda, selain melestarikan kebudayaan Sunda yang sudah turun-temurun diwariskan, kegiatan ini menjadi ajang mempererat kerukunan, kebersamaan, dan gotong royong antar warga masyarakat serta bentuk ketaatan terhadap Tuhan YME. Ini dirasakan ketika upacara dilaksanakan dimana masyarakat saling bahu membahu serta gotong royong dalam mempersiapkan terlaksanakannya prosisi upacara ini, terlebih dengan dilaksanakannya upacara seperti ini dapat dijadikan ajang kepedulian pemerintah terhadap kelesatarian budaya masyarakatnya.
Manfaat lain yang dirasakan masyarakat yaitu menghapuskan kesenjangan antara kaya dan miskin, pemerintah dan rakyat. Karena dalam pelaksanaanya semua elemen masyarakat bersama-sama membaur  demi terlaksananya upacara ini.

[1] Tarawangsa adalah jenis alat musik asli daerah Rancakalong Sumedang Jawa Barat yang menyerupai Rebab.

[2] Dewi Sri ialah dewi padi menurut ajaran sunda buhun yang berawal dari kepercayaan Hindu.
[3] Lieut adalah gubuk atau saung terbuat dari bambu dan kayu sebagai penyimpanan pare atau gabah.
[4] Kujang adalah senjata tradisi khas suku Sunda, dan juga pusaka raja-raja kerajaan Sunda.
[5] Tukang Ngukus ialah juru saksi adat yang mempunyai kemampuan menerawang alam gaib.
[6] Salendang Wulung adalah selendang yang berwarna hijau pekat mendekati warna hitam.
[7] Pangrajah adalah doa yang ditujukan kepada karuhun atau leluhur sebelum melaksanakan upacara adat.
[8] Sembilan ini adalah angka dimana ada sembilan rundayan atau keturunan yang ikut serta dalam kegiatan upacara ampih pare ini, angka ini bisa berubah tergantung banyaknya keturunan yang ikut serta.
[9] Papalayung atau papalayon adalah nama sebuah lagu dalam musik gamelan.
[10] Goah adalah suatu ruangan atau gudang yang berdampingan dengan rumah, berfungsi sebagai penyimpan hasil panen baik padi atau hasil panen lainnya.
[11] Pipiti adalah sebuah wadah makanan yang terbuat dari anyaman bambu segi empat sebesar mangkuk.
[12] Canoli ialah orang penjaga atau pengurus goah tempat penyimpanan makanan, biasanya seorang perempuan dewasa, atau seorang perempuan yang sudah tua dan yang di tuakan untuk mengatur di dalam goah.
[13] Saur Pangembat adalah lagu sunda yang berisikan tentang perintah atau himbauan.
[14] Lalayaran atau pengumbaraan, perjalanan dsb.
[15] Pohaci adalah sebutan kepada paradewi seperti Nyi Pohaci atau Nyi Sri. Dalam kepercayaan pasundaan atau kepercayaan Sunda bahwa padi yang bagus itu berasal dari jasad Nyi Pohaci Sangiang Sri Dangdayang Tisnawati.
[16] Icikibung bentuk parisipasi atau ikut serta dalam suatu kegiatan adat Sunda.








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berita yang lain

FOTO MURID