Senin, 05 Desember 2011

Aspek-aspek Perkembangan Anak

Aspek-aspek Perkembangan Anak
Perkembangan berkenaan dengan keseluruhan kepribadian individu anak, karena
kepribadian individu membentuk satu kesatuan yang terintegrasi. Secara umum dapat
dibedakan beberapa aspek utama kepribadian individu anak, yaitu aspek (1) kognitif, (2)
fisik-motorik, (3) sosio-emosional, (4) bahasa, (5) moral dan (6) keagamaan.

Perkembangan dari tiap aspek kepribadian tidak selalu bersama-sama atau sejajar,
perkembangan sesuatu aspek mungkin mendahului atau mungkin juga mengikuti aspek
lainnya. Pada awal kehidupan anak, yaitu pada saat dalam kandungan dan tahun-tahun
pertama, perkembangan aspek fisik dan motorik sangat menonjol. Selama sembilan bulan
dalam kandungan, ukuran fisik bayi berkembang dari seperduaratus milimeter menjadi 50
sentimeter panjangnya. Selama dua tahun pertama, bayi yang tidak berdaya pada awal
kelahirannya, telah menjadi anak kecil yang dapat duduk, merangkak, berdiri, bahkan
pandai berjalan dan berlari, bisa memegang dan mempermainkan berbagai benda atau alat.
1. Kognitif
Kognitif perkembangannya diawali dengan perkembangan kemampuan mengamati,
melihat hubungan dan memecahkan masalah sederhana. Kemudian berkembang ke arah
pemahaman dan pemecahan masalah yang lebih rumit. Aspek ini berkembang pesat
pada masa anak mulai masuk sekolah dasar (usia 6-7 tahun). Berkembang konstan
selama masa belajar dan mencapai puncaknya pda masa sekolah menengah atas (usia
16-17 tahun).
Menurut Piaget, dinamika perkembangan intelektual individu mengikuti dua proses,
yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang
mengintegrasikan persepsi, konsep atau pengalaman baru ke dalam struktur kognitif
yang sudah ada di dalam pikirannya. Struktur kognitif yang dimaksud adalah segala
pengetahuan individu yang membentuk pola-pola kognitif tertentu. Jadi struktur kognitif
sesungguhnya merupakan kumpulan dari pengalaman dalam kognisi individu.
Ada dua fungsi guru SD sekaitan proses asimilasi, yakni meletakkan dasar struktur
kognitif yang tepat tentang sesuatu konsep pada kognisi anak dan memperkaya struktur
kognitif menjadi semakin lengkap dan mendalam. Peletakkan struktur kognitif yang
tepat tentang sesuatu konsep pada kognisi anak dianggap penting sebab pendidikan di
SD sangat fundamental bagi pemerkayaan dan pendalaman. Sementara itu pemerkayaan
dan pendalaman struktur kognitif anak diarahkan kepada perluasan wawasan kognitif
mereka.
Ada kalanya individu tidak dapat mengasimilasikan rangsangan atau pengalaman baru
yang dihadapinya dengan struktur kognitif yang ia miliki. Ketidakmampuan ini terjadi
karena rangsangan atau pengalaman baru itu sama sekali tidak cocok dengan struktur
kognif yang telah ada. Dalam keadaan seperti ini, individu akan melakukan akomodasi.
Ada dua kemungkinan yang dapat dilakukan individu dalam situasi ini, yakni (a)
membentuk struktur kognitif baru yang cocok dengan rangsangan atau pengalaman baru;
(b) memodifikasi struktur kognitif yang ada sehingga cocok dengan rangsangan atau
pengalaman baru.
Menurut Piaget, proses asimilasi dan akomodasi terus berlangsung pada diri seseorang.
Dalam perkembangan kognitif, diperlukan keseimbangan antara kedua proses ini.
Keseimbangan itu disebut ekuilibrium, yakni pengaturan diri secara mekanis yang perlu
untuk mengatur keseimbangan proses asimilasi dan akomodasi.
Piaget membagi proses perkembangan fungsi-fungsi dan perilaku kognitif ke dalam
empat tahapan utama yang secara kualitatif setiap tahapan memunculkan karakteristik
yang berbeda-beda. Tahapan perkembangan kognitif itu adalah: (a) periode sensori
motorik (0;0-2;0), (b) periode praoperasional (2;0-7;0 tahun), (c) periode operasional
konkrit (7;0-11 atau 12;0 tahun), dan (d) periode operasional formal (11;0 atau 12;0 – 14
atau15;0).
2. Fisik
Perkembangan fisik anak usia SD mengikuti prinsip-prinsip yang berlaku umum
menyangkut: tipe perubahan, pola pertumbuhan fisik dan karakteristik perkembangan
serta perbedaan individual. Perubahan dalam proporsi mencakup perubahan tinggi dan
berat badan. Pada fase ini pertumbuhan fisik anak tetap berlangsung. Anak menjadi
lebih tinggi, lebih berat, lebih kuat, dan lebih banyak belajar berbagai keterampilan.
Perkembangan fisik pada masa ini tergolong lambat tetapi konsisten, sehingga cukup
beralasan jika dikenal sebagai masa tenang.
3. Sosial
Perkembangan aspek sosial diawali pada masa kanak-kanak (usia 3-5 tahun). Anak
senang bermain bersama teman sebayanya. Hubungan persebayaan ini berjalan terus dan
agak pesat terjadi pada masa sekolah (usia 11-12 tahun) dan sangat pesat pada masa
remaja (16-18 tahun). Perkembangan sosial pada masa kanak-kanak berlangsung melalui
hubungan antar teman dalam berbagai bentuk permainan.
4. Bahasa
Aspek bahasa berkembang dimulai dengan peniruan bunyi dan suara, berlanjut dengan
meraban. Pada awal masa sekolah dasar berkembang kemampuan berbahasa sosial yaitu
bahasa untuk memahami perintah, ajakan serta hubungan anak dengan teman-temannya
atau orang dewasa. Pada akhir masa sekolah dasar berkembang bahasa pengetahuan.
Perkembangan ini sangat berhubungan erat dengan perkembangan kemampuan
intelektual dan sosial. Bahasa merupakan alat untuk berpikir dan berpikir merupakan
suatu proses melihat dan memahami hubungan antar hal. Bahasa juga merupakan suatu
alat untuk berkomunikasi dengan orang lain, dan komunikasi berlangsung dalam suatu
interaksi sosial. Dengan demikian perkembangan kemampuan berbahasa juga
berhubungan erat dan saling menunjang dengan perkembangan kemampuan sosial.
Perkembangan bahasa yang berjalan pesat pada awal masa sekolah dasar mencapai
kesempurnaan pada akhir masa remaja.
5. Afektif
Perkembangan aspek afektif atau perasaan berjalan konstan, kecuali pada masa remaja
awal (13-14 tahun) dan remaja tengah (15-16 tahun). Pada masa remaja awal ditandai
oleh rasa optimisme dan keceriaan dalam hidupnya, diselingi rasa bingung menghadapi
perubahan-perubahan yang terjadi dalam dirinya. Pada masa remaja tengah, rasa senang
datang silih berganti dengan rasa duka, kegembiraan berganti dengan kesedihan, rasa
akrab bertukar dengan kerenggangan dan permusuhan. Gejolak ini berakhir pada masa
remaja akhir yaitu pada usia 18-21 tahun.
6. Moral keagamaan
Aspek moral dan keagamaan juga sudah berkembang sejak anak masih kecil. Peranan
lingkungan terutama lingkungan keluarga sangat dominan bagi perkembangan aspek ini.
Pada mulanya anak melakukan perbuatan bermoral atau keagamaan karena meniru, baru
kemudian menjadi perbuatan atas prakarsa sendiri. Perbuatan prakarsa sendiripun pada
mulanya dilakukan karena adanya kontrol atau pengawasan dari luar, kemudian
berkembang karena kontro dari dalam atau dari dirinya sendiri. Tingkatan tertinggi
dalam perkembangan moral adalah melakukan sesuatu perbuatan bermoral karena
panggilan hati nurani, tanpa perintah, tanpa harapan akan sesuatu imbalan atau pujian.
Secara potensial tingkatan moral ini dapat dicapai oleh individu pada akhir masa remaja,
tetapi faktor-faktor dalam diri dan lingkungan individu anak sangat berpengaruh
terhadap pencapaiannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berita yang lain

FOTO MURID